Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Daerah
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Nasional

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Best Online Casinos in the UK: Top Casino Sites Reviewed in 2026

Play 23,800+ Free Online Casino Games No Download

Best Live Dealer Casinos UK: Online Live Casino Games 2026

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Daerah
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Nasional
suaramentari.id
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Daerah
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Nasional
suaramentari.id
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Daerah
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Nasional
You are at:Home»Terkini»Titin dan Chika: Secangkir Kopi di Tengah Bisingnya Ibu Kota
Terkini

Titin dan Chika: Secangkir Kopi di Tengah Bisingnya Ibu Kota

redaksiBy redaksiOktober 25, 2026 11:51 am0368 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

# Titin dan Chika: Secangkir Kopi di Tengah Bisingnya Ibu Kota

Minggu, 25 Oktober 2026 — Sate Maranggi S. Parman

Di tengah kepulan asap sate maranggi dan aroma daging yang dibakar di atas bara, Titin duduk terdiam. Sesekali ia memandang jalanan Jakarta yang tak pernah benar-benar sepi, bahkan pada hari Minggu.

 

Di hadapannya, Chika, anak perempuannya, sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang tertawa, ada yang terburu-buru, ada pula yang berjalan dengan wajah lelah, seolah sedang memikul beban yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun.

Titin tersenyum tipis.

“Chika, kamu pernah enggak merasa hidup ini seperti jalanan Jakarta?”

Chika mengangkat wajahnya. “Maksud Mama?”

“Ramai, berisik, semua orang seperti sedang mengejar sesuatu. Tapi kadang-kadang, kita sendiri enggak tahu sedang mengejar apa.”

Chika terdiam. Ia belum sepenuhnya memahami kalimat ibunya, tetapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam hati perempuan yang selama ini selalu terlihat kuat itu.

Hari itu, Titin tidak sekadar ingin makan sate maranggi. Ia ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas, dari pikiran yang menumpuk, dari hari-hari yang terkadang membuatnya lupa bahwa dirinya juga manusia yang bisa lelah.

Dan ia ingin mengajak Chika melihat dunia dari sudut yang berbeda.

1 — Menantang Jakarta dengan Dua Tiket Busway

Menjajal Transjakarta dengan Mau ke Mana Saja dengan Tarif Flat

“Mama, kita mau ke mana setelah makan?” tanya Chika.

Titin menghabiskan tegukan air putihnya, kemudian menatap anaknya dengan mata berbinar.

“Kita jalan-jalan keliling Jakarta.”

“Pakai mobil?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Naik busway\!”

 

Chika terbelalak. “Serius, Ma? Kita mau keliling Jakarta naik busway?”

“Kenapa? Memangnya busway cuma untuk orang yang enggak punya tujuan?”

Chika tertawa. “Bukan begitu, Ma\!”

Titin ikut tertawa. Sudah lama ia tidak merasakan kegembiraan sesederhana itu.

Mereka menyelesaikan makan siang, lalu bersiap memulai perjalanan. Di luar, matahari masih menyinari gedung-gedung tinggi, sementara deru kendaraan seolah menjadi musik latar yang tak pernah berhenti.

Bagi orang lain, naik busway mungkin hanya perjalanan biasa. Namun bagi Titin, itu adalah sebuah tantangan kecil: berani keluar dari kebiasaan, berani mencoba sesuatu yang baru, dan berani memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk menikmati hidup.

Mereka naik bus TransJakarta, berdiri di antara penumpang yang datang dan pergi. Dari balik kaca, Chika melihat gedung-gedung, pedagang kaki lima, lampu lalu lintas, dan wajah-wajah asing yang masing-masing menyimpan cerita.

“Mama, Jakarta itu besar sekali, ya.”

“Besar sekali, Nak. Tapi yang lebih besar itu harapan orang-orang yang tinggal di dalamnya.”

“Kalau begitu, harapan Mama apa?”

Pertanyaan itu membuat Titin terdiam.

Ia menoleh ke luar jendela.

Harapan?

Sudah lama sekali ia tidak benar-benar bertanya kepada dirinya sendiri tentang hal itu.

# 2 — Sebuah Kafe yang Menyimpan Keheningan

 

Living in Indonesia, But Never Truly Experiencing It | by Anisa Setiawati | Write A Catalyst | Feb, 2026 | Medi

 

Perjalanan mereka berlanjut. Bus melaju melewati jalan-jalan besar, berhenti di halte, lalu kembali bergerak bersama denyut kehidupan kota.

 

Sampai akhirnya, di sela-sela gedung dan keramaian, mata Titin tertuju pada sebuah kafe kecil.

 

Dari luar, tempat itu tampak sederhana. Ada jendela lebar, beberapa tanaman hijau, meja kayu, dan cahaya hangat yang jatuh di atas kursi-kursi kosong.

 

Titin membayangkan secangkir kopi panas, aroma biji kopi yang baru digiling, serta waktu yang berjalan lebih lambat daripada biasanya.

“Chika, coba lihat itu.”

“Kafe, Ma?”

“Iya. Bayangkan, di luar sana Jakarta berisik sekali, tapi di dalam sana mungkin kita bisa mendengar suara hati sendiri.”

Chika tersenyum jahil.

“Wah, Mama sekarang puitis\!”

“Memangnya Mama enggak boleh puitis?”

“Boleh. Tapi biasanya Mama cuma mikirin belanja, kerjaan, dan besok masak apa.”

Titin tertawa lepas.

Namun, ketika mereka turun dan mulai mencari jalan menuju kafe itu, perjalanan kecil mereka mendadak berubah menjadi sesuatu yang tidak mereka duga.

Langit yang sejak siang cerah perlahan menghitam.

Angin bertiup kencang. Hujan turun dengan deras, membasahi trotoar dan membuat orang-orang berlarian mencari perlindungan.

Titin meraih tangan Chika.

“Ayo, Nak\! Kita cari tempat berteduh\!”

Mereka berlari melewati trotoar yang licin. Sebuah kendaraan melintas cepat, menyipratkan air ke tepi jalan. Chika hampir kehilangan keseimbangan, tetapi Titin sigap menariknya.

“Mama, hati-hati\!”

“Iya\! Pegang tangan Mama kuat-kuat\!”

Di tengah hujan dan kebisingan itu, Titin menyadari sesuatu: perjalanan yang terlihat sederhana bisa berubah menjadi ujian kapan saja.

Dan terkadang, keberanian bukan tentang berlari paling cepat, melainkan tentang memastikan orang yang kita cintai tetap berada di sisi kita.

## Bab 3 — Ketika Ibu Tak Selalu Punya Jawaban

Mereka akhirnya berteduh di depan sebuah bangunan, menunggu hujan sedikit mereda.

Rambut Chika basah. Ujung pakaian Titin terkena cipratan air. Keduanya terengah-engah, tetapi kemudian tertawa melihat keadaan mereka sendiri.

“Ma, ini namanya petualangan atau musibah kecil?” Chika menggoda.

“Petualangan yang sedikit kebanyakan air\!”

Tawa mereka pecah di tengah suara hujan.

Namun, setelah beberapa saat, Chika memandang ibunya dengan serius.

“Ma, Mama sebenarnya capek, ya?”

Titin menoleh.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Soalnya akhir-akhir ini Mama sering diam. Kadang Mama senyum, tapi Chika tahu Mama lagi banyak pikiran.”

Titin tak langsung menjawab.

Ada pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada menghadapi hujan Jakarta. Pertanyaan yang datang dari anak sendiri, yang tanpa disadari mampu menembus pertahanan hati paling dalam.

Akhirnya Titin menarik napas panjang.

“Iya, Nak. Mama capek.”

Chika menggenggam tangannya.

“Tapi Mama harus kuat, kan?”

Titin menggeleng perlahan.

“Enggak selalu, Chika. Mama boleh kuat, tapi Mama juga boleh capek. Mama boleh menangis, boleh bingung, boleh merasa enggak tahu harus melakukan apa.”

“Terus kalau Mama capek, Mama harus bagaimana?”

Titin memandang wajah anaknya.

“Berhenti sebentar. Tarik napas. Lihat sekeliling. Ingat bahwa hidup bukan cuma tentang menyelesaikan semua masalah hari ini.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Kadang-kadang, kita terlalu sibuk menjadi kuat sampai lupa menikmati hal-hal kecil yang sebenarnya membuat kita bertahan.”

Chika menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.

“Kalau begitu, hari ini Mama istirahat saja. Biar Chika yang menemani.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Titin berkaca-kaca.

Di tengah kota yang dipenuhi gedung tinggi, kendaraan, dan jutaan manusia yang sibuk mengejar impiannya masing-masing, Titin menemukan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang: perhatian tulus dari anaknya sendiri.

## Bab 4 — Kopi, Hujan, dan Sebuah Keputusan

happy play

Ketika hujan mulai mereda, mereka melanjutkan perjalanan menuju kafe yang tadi mereka lihat.

Kali ini, mereka berjalan lebih pelan.

Tidak ada lagi keinginan untuk buru-buru sampai. Tidak ada lagi keluhan tentang jalanan yang macet atau cuaca yang tidak bersahabat.

Mereka hanya ingin sampai dengan selamat, duduk dengan nyaman, dan menikmati waktu bersama.

Di dalam kafe, Titin memesan secangkir kopi hangat, sedangkan Chika memilih minuman cokelat.

Mereka duduk dekat jendela. Di luar, air hujan masih menetes dari dedaunan, kendaraan bergerak perlahan, dan lampu-lampu kota mulai menyala.

Titin memegang cangkirnya dengan kedua tangan.

Hangat.

Sederhana.

Menenteramkan.

“Chika,” katanya pelan, “Mama punya satu keinginan.”

“Apa, Ma?”

“Mama ingin suatu hari nanti kita bisa pergi ke banyak tempat. Bukan karena kita sedang ingin melupakan masalah, tetapi karena kita ingin belajar melihat hidup dari sisi yang lebih luas.”

“Ke mana dulu?”

Titin tersenyum.

“Ke mana saja. Yang penting kita berani melangkah.”

Chika mengaduk minumannya.

“Kalau begitu, suatu hari nanti Chika ingin mengajak Mama ke tempat yang punya pemandangan bagus. Ada gunung, udara sejuk, dan enggak ada suara klakson.”

“Wah, berarti Mama harus menabung.”

“Enggak apa-apa, Ma. Kita mulai dari yang kecil dulu.”

Titin terdiam sesaat.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.

Mulai dari yang kecil.

Bukankah begitu cara semua perjalanan besar dimulai?

Satu langkah. Satu keputusan. Satu keberanian untuk mencoba.

Hari itu, Titin membuat keputusan dalam diam. Ia tidak akan menunggu sampai seluruh masalahnya selesai untuk merasa bahagia. Ia tidak akan terus menunda waktu bersama Chika hanya karena hidup terasa begitu sibuk.

Ia akan belajar memberikan ruang bagi dirinya sendiri.

Bukan untuk menyerah pada tanggung jawab, melainkan agar ia bisa menjalaninya dengan hati yang lebih lapang.

Dan mungkin, esok hari, tantangan baru akan kembali datang.

Tetapi setidaknya, hari ini ia telah membuktikan bahwa di tengah penatnya ibu kota, masih ada kesempatan untuk menemukan ketenangan.

## Epilog — Jakarta Tak Pernah Benar-Benar Diam

Aerial View of Jakarta City during the golden hour.

Minggu sore, 25 Oktober 2026, perlahan berubah menjadi malam.

Titin dan Chika meninggalkan kafe dengan langkah ringan. Mereka belum menjelajahi seluruh Jakarta. Mereka belum melihat semua tempat yang ingin dikunjungi. Bahkan, masih banyak jalan yang belum mereka lewati.

Namun, ada sesuatu yang telah berubah.

Titin tak lagi melihat Jakarta hanya sebagai kota yang melelahkan. Ia mulai melihatnya sebagai ruang luas yang menyimpan banyak kemungkinan.

Di setiap halte, ada pertemuan.

Di setiap perjalanan, ada pelajaran.

Di setiap persimpangan, ada keputusan yang harus diambil.

Dan di balik setiap wajah yang terlihat terburu-buru, mungkin ada seseorang yang sedang berjuang keras agar hidupnya tetap berjalan.

Chika menggenggam tangan ibunya.

“Ma, besok kita jalan-jalan lagi, ya?”

Titin tertawa kecil.

“Lho, Mama baru saja istirahat hari ini\!”

“Ya, kan masih banyak tempat yang belum kita kunjungi.”

Titin menatap lampu-lampu kota, lalu memandang anaknya.

“Iya, Nak. Masih banyak.”

Mereka berjalan menuju halte, kembali menjadi dua orang kecil di tengah kota yang begitu besar.

Tetapi malam itu, Titin tidak merasa kecil.

Ia merasa memiliki alasan untuk terus melangkah.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan selalu tentang pergi jauh, memiliki banyak uang, atau hidup tanpa masalah.

Terkadang, kebahagiaan adalah keberanian untuk keluar dari rutinitas, mencoba naik busway tanpa rencana yang sempurna, menemukan secangkir kopi di tengah hujan, dan menyadari bahwa orang yang berjalan di samping kita adalah salah satu alasan terkuat untuk tetap bertahan.

Jakarta boleh bising. Kehidupan boleh melelahkan. Tetapi selama Titin dan Chika masih berani bermimpi, perjalanan mereka belum selesai.

Dan siapa tahu, di perjalanan berikutnya, sebuah kejutan yang jauh lebih besar sedang menunggu mereka.

Karena setiap ibu memiliki perjuangannya sendiri, dan setiap anak menyimpan harapan yang mungkin belum pernah diucapkan. Kadang-kadang, sebuah petualangan kecil menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup keduanya.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous Articlebetandreas yukle – real rəqəmlər və şərtlər
Next Article NIAT KE TANAH SUCI! EL-MAHREEN TOUR &TRAVEL KESEMPATAN BAGI MASYARAKAT UNTUK BERGABUNG MELALUI TRAVEL
redaksi

Related Posts

Best Online Casinos in the UK: Top Casino Sites Reviewed in 2026

November 7, 2026 9:58 pm

Play 23,800+ Free Online Casino Games No Download

November 7, 2026 9:47 pm

Best Live Dealer Casinos UK: Online Live Casino Games 2026

November 7, 2026 9:44 pm
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

DARI LOPER KORAN HINGGA JADI MILIARDER: KISAH INSPIRATIF ASYARI LALUI JALAN TERIK DI GROGOL PETAMBURAN

Agustus 19, 2026 7:50 am124 Views

Buktikan Cinta Sesama Karang Taruna RW 04 Wijaya Kusuma Grogol Petamburan Jakarta Barat Galang Dana Untuk Musibah NTT

Agustus 29, 2026 8:54 pm77 Views

Keluarga Besar Al-Zaytun Memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Syaykh Al-Zaytun Abdussalam R. Panji Gumilang, S.Sos., M.P.

Juli 30, 2026 8:03 am76 Views
© 2026 suaramentari. Designed by suaramentari.
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Daerah
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Nasional

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.