-
-
“Pembinaan Jurnalistik Jakarta Barat Bahas Perkembangan Pers dari Era Tradisional hingga Digital
TANGERANG SELATAN — Kegiatan pembinaan jurnalistik Jakarta Barat yang digelar pada Selasa, 13 Oktober 2026, di Asmen Tangsel, Pondok Aren, membahas sejarah dan perkembangan dunia jurnalistik dari era tradisional hingga era digitalisasi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan, pengetahuan, serta kemampuan peserta dalam memahami perkembangan pers dan praktik jurnalistik di tengah kemajuan teknologi informasi.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Doktor Honoris Suparman, M.Si., M.M., Hafidz Azis, S.Sos., dan Aris Sudrajat, S.Sos. Adapun narasumber yang memberikan materi dalam kegiatan ini adalah Hatta Thahir, S.Sos., dan Ari Kusumadi Susila, A.md . kom
Dalam pembahasan tersebut yang di sampaikan oleh hafisd Azis S.sos , peserta diajak memahami bahwa jurnalistik memiliki perjalanan panjang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Pada era tradisional, penyebaran informasi dilakukan melalui berbagai media konvensional, seperti surat kabar, majalah, buletin, radio, dan televisi. Proses kerja jurnalistik pada masa itu membutuhkan tahapan yang relatif panjang, mulai dari pencarian fakta, wawancara, penulisan berita, penyuntingan, hingga penerbitan atau penayangan kepada masyarakat.
Surat kabar dan majalah menjadi salah satu media utama dalam menyampaikan informasi kepada publik. Sementara itu, radio berperan penting dalam menyebarkan berita secara lisan, sedangkan televisi menghadirkan informasi melalui kombinasi suara dan gambar. Meskipun teknologi pada masa tersebut memiliki keterbatasan, media konvensional berperan besar dalam membentuk opini publik, menyampaikan informasi pemerintahan, serta mengawasi berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Memasuki era digitalisasi, perkembangan teknologi internet mengubah cara kerja jurnalistik secara signifikan. Informasi kini dapat dipublikasikan melalui portal berita daring, media sosial, aplikasi pesan, podcast, serta berbagai platform digital lainnya. Berita dapat diakses masyarakat secara cepat, kapan saja dan di mana saja, tanpa harus menunggu jadwal penerbitan surat kabar atau siaran berita.
Digitalisasi juga memungkinkan jurnalis menyampaikan informasi dalam berbagai format, mulai dari tulisan, foto, video, infografik, hingga siaran langsung. Interaksi antara media dan masyarakat menjadi lebih terbuka karena pembaca dapat memberikan tanggapan, membagikan informasi, serta mengikuti perkembangan suatu peristiwa secara langsung.
Namun, kemudahan tersebut turut menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Penyebaran berita bohong atau hoaks, disinformasi, manipulasi foto dan video, serta informasi yang belum terverifikasi menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh jurnalis maupun masyarakat.
Oleh karena itu, profesionalisme dan etika jurnalistik tetap menjadi landasan utama dalam menjalankan tugas pemberitaan, baik pada era tradisional maupun digital. Jurnalis dituntut untuk mengedepankan prinsip akurasi, keberimbangan, verifikasi, independensi, serta tanggung jawab kepada publik. Kecepatan penyampaian berita tidak boleh mengesampingkan kebenaran dan ketepatan informasi.
Dalam konteks tersebut, pembinaan jurnalistik memiliki peran penting untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai teknik peliputan, wawancara, penulisan berita, pemeriksaan fakta, serta pemanfaatan teknologi digital secara bijak. Kemampuan memilah informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan juga menjadi keterampilan penting di tengah derasnya arus informasi.
Perkembangan teknologi pada akhirnya tidak menghilangkan prinsip dasar jurnalistik. Sebaliknya, teknologi menjadi sarana yang dapat memperluas jangkauan pemberitaan, meningkatkan efisiensi kerja, dan mempercepat distribusi informasi kepada masyarakat.
Melalui kegiatan pembinaan jurnalistik Jakarta Barat ini, pemahaman mengenai perjalanan pers dari era tradisional hingga digital diharapkan dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, informatif, berimbang, dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.
Jurnalistik boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi kebenaran, integritas, dan tanggung jawab kepada publik harus tetap menjadi prinsip utama dalam setiap pemberitaan

-
Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
Previous ArticleTerbaru: PT Astra International Tbk Kembangkan Wisata Budaya Osing di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Banyuwangi Secara Detail
Next Article a16z generative ai
Related Posts
Add A Comment
