“Dari Dagang Balon Seribu ke Bos PT: Kisah Siswanto dan Doa Anak Yatim”*
“Tuut… tuut…”
Suara klakson motor tua memecah ramai di depan gerbang sekolah. Di jok belakang, puluhan balon merah, kuning, biru bergoyang.
Siswanto, 42 tahun, atau akrab disapa Wanto, turun sambil senyum. Matanya langsung nyari anak-anak yg berdiri di pojokan. “Sini nak, yang yatim ambil aja. Gratis. Jangan malu,” katanya.
Sudah belasan tahun begitu. Keliling sekolah naik motor. Jual balon seribuan. Tapi untuk anak yatim piatu, harganya selalu nol rupiah.
HATI DI UJUNG JALAN
Bagi Wanto, dagang itu ibadah.
“Capek muter-muter? Ya capek. Tapi kalau liat anak yatim megang balon terus ketawa, ilang semua capeknya,” ujar Wanto sambil ngelap keringat.
Harga balonnya sengaja murah, Rp1.000 sampai Rp3.000. Hasilnya pas-pasan buat makan keluarga. Tapi ia punya prinsip: “Sedekah itu nggak bikin rugi. Malah nambah rezeki.”
Di balik kesederhanaannya, Wanto tetap semangat cari rezeki halal.
TANGAN YANG MENOLONG
Titik balik datang dari orang yg nggak disangka. Yusuf, sahabat satu kampungnya.
Dulu mereka sama-sama berjuang. Kini Yusuf sudah lebih dulu sukses. Saat ketemu Wanto yg masih keliling bawa balon, Yusuf justru salut.
“Saya liat Wanto itu orangnya tulus banget. Dagang kecil tapi hatinya besar. Dia ngajarin saya arti berbagi,” kata Yusuf.
Dari situlah Yusuf ngajak. “Wanto, gabung yuk. Kita usaha bareng. Ilmu saya, tenaga kamu.”
DARI BALON KE GEDUNG KANTOR
Ajakan itu disambut. Hari demi hari, Wanto belajar. Dari nol. Cara atur keuangan, cara bangun tim, cara kelola usaha.
Dengan modal nekat dan ilmu dari Yusuf, Wanto dirikan PT SMK. Awalnya kecil. Sekarang, PT SMK sudah jadi perusahaan yg sukses dan punya banyak karyawan.
Tapi Wanto nggak lupa daratan. Sampai sekarang, kalau ada waktu luang, ia masih mampir ke sekolah bawa balon.
“Jabatan boleh naik, tapi hati jangan. Harus tetap di bawah, buat nolong orang,” ucapnya.
Yusuf pun bangga. “Saya senang bisa jadi bagian dari perjalanan dia. Bukti kalau orang baik itu pasti ketemu jalannya.”
*PENUTUP*
Dari klakson motor tua dan balon seribuan, lahirlah sebuah perusahaan.
Kisah Wanto bukan cuma tentang sukses. Tapi tentang ketulusan yg dibalas, tentang sahabat yg nggak ninggalin, dan tentang doa anak yatim yg mungkin mengantarkannya sampai ke titik ini, Menjadi Direktur utama di perusahaan yang ia miliki.
Martaw Wijaya pewarta
